Tuesday, May 29, 2012

Lidah Bani Israil

Kita masih membahas tentang budak-budak Fir'aun. Hingga hari ini, seorang Yahudi bebas untuk percaya kepada APAPUN. Hyam Maccoby, seorang rabbi yang menjadi nara sumber Karen Armstrong ketika menulis latar belakang Yudaisme Paulus  dalam The First Chrisitan, mengatakan, "Tak seorangpun dapat mengatur orang Yahudi, menentukan apa yang mereka percayai. Dengan sembarang alasan, anda dapat mempercayai apa pun yang anda suka".

"Kami punya ortopraksi ketimbang ortodoksi." kata Maccoby. "Praktek yang benar ketimbang keyakinan yang benar. Itu saja. Kalian orang kristen begitu ribut soal kepercayaan, tapi itu tidak sepenting seperti yang anda pikirkan. Teologi itu hanya puisi untuk mengungkapkan yang tak tergapai." Begitu katanya. Nah. Ortopraksi. Talmud, bukan Taurat. Praktek tanpa keyakinan. Itulah sebabnya mereka sepanjang sejarah mereka terombang-ambing, diperbudak berbagai bangsa dan dijajah berbagai peradaban.

Memang ada puncak-puncak yang mereka raih, seperti ketika Thalut, Daud dan Sulaiman memimpin mereka. Tetapi tidak pernah lama. Segera setelah Sulaiman meninggal, mereka sibuk bersihir tenung sambil menuduhkan ketidakpantasan itu kepada Sulaiman dan Daud. Mereka telah menukar Kitab Allah dengan sihir (Al Baqarah 102).

Karunia terbesar Allah kepada mereka adalah Taurat. Tetapi paganisme yang terselundupkan itu jauh lebih dominan memberi arah bagi sejarah mereka. Maka mereka menjadi begitu akrab dengan segala bentuk dan unsur paganisme. Hilangnya identitas diri setelah timbul tenggelam dalam kancah peradaban yang ganas telah membuat mereka mudah untuk meniru ucapan dan perilaku orang-orang kafir sebelum mereka.

"Berkatalah orang-orang Yahudi, "Uzair itu putera Allah!", dan orang-orang Nasrani mengatakan, "Al Masih itu putera Allah!". Demikianlah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru ucapan orang-orang kafir sebelumnya. Dilaknati Allah lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?" (At Taubah 30)


Ingat Hercules putra Zeus atau Krisna titisan Wisnu? Lihat! Mereka meniru mitos Yunani dan juga epos India Lama tentang tuhan beranak manusia! Tentu saja mereka sangat hafal, Fir'aun juga anak Amon Ra, Dewa Matahari. Bahkan tanpa risih dan malu  mereka berkata dengan lidahnya, "Allah itu faqir dan kami kaya" (Ali Imran 181). Atau berceloteh "Tangan Allah terbelenggu" (Al Maidah 64)

Bani Israil tumbuh dari bangsa yang rewel soal makanan sampai menjadi kufur dan berani membunuh Nabi-nabinya. Bertambahnya pengetahuan justru membuat semakin jauh dari kebenaran karena dengki dan permusuhan. Kedengkian membuat Paulus si Yahudi tega memporak-porandakan risalah tauhid 'Isa dengan trinitas, dosa waris, dan doktrin penebusan. Kesyirikan benar-benar telah menodai kesucian Taurat dan Injil.

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahibnya sebagai Rabb-rabb selain Allah dan juga Al Masih ibnu Maryam ..." (At Taubah 31)


Mereka memang tidak sujud dan ruku' pada para rahib dan pendeta. Tapi mereka menjadikan kata-kata para pemuka melebihi kedudukan firman Allah dan hukum-hukumNya. Dari lisan-lisan rahib dan 'alim, yang halal bisa jadi haram, demikian sebaliknya. Begitulah kata Nabi sebagaimana dibenarkan Ady ibn Hatim. Sesuatu yang kita khawatirkan kini, disandarkan pada Ustadz dan Kyai. Karena setapak demi setapak ummatnya akan mengikuti langkah-langkah Yahudi dan Nasrani. Perpecahan dan keraguan atas isi Al Kitab menjadi fenomena yang tak terhindarkan.

'Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang sudah ada dari Rabbmu yang terdahulu (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al Kitab (Taurat dan Injil) sesudahnya, benar-benar dalam kegoncangan yang meragukan atas kitab itu." (Asy Syuraa 14)

Orang alim yahudi merubah-rubah isi Taurat. Bahkan mereka menggantinya dengan pemberlakuan Talmud yang jumud. Richard P. Feynman, fisikawan peraih nobel itu bercerita bagaimana repotnya berinteraksi dengan para penganut Talmud. Mereka pernah bertanya, "Apakah listrik itu bisa dianalogikan dengan api dalam sifat-sifatnya?" Dan Feynman menjelaskannya. Pagi-pagi di hari Sabtu mereka bergerombol di pintu lift menanti orang non Yahudi untuk memencet tombolnya. "Kalau listrik itu api, maka ini adalah hari Sabath, kami dilarang menyalakannya". Tak ada gunanya berdebat dengan mereka, kata Feynman. Karena buku berusia 3000 tahun itu sangat dinamis, direvisi dan ditafsiri selama berabad-abad, hingga membahas sampai ke urusan ukuran benang untuk menjahit celana dalam!

Sementara Injil nasibnya lebih tragis. Isinya diotak-atik tangan-tangan najis. Maka datanglah kemudian generasi bingung. Ketika melihat isi Al Kitab tak lagi relevan, mereka menyelenggarakan konsili untuk merevisinya. Ada lagi generasi bingung lain. Mereka mengharamkan perhiasan Allah dengan merahibkan diri, dan beribadah tanpa dasar ilmu. Layaklah Al Qur'an menggelari Yahudi sebagai 'Al Maghdub 'Alaihim dan menyebut Nasrani sebagai "Addhalliin.

Laknat Allah kemudian datang. Mereka terlunta-lunta di tengah hiruk-pikuk perebutan kekuasaan dalam panggung sejarah. Tinggal satu harapan, datangnya seorang Nabi yang akan memimpin mereka, sebagaimana jelas tersebut dalam Taurat dan Injil. Ketika para pemuka mengatakan bahwa Nabi itu akan muncul dari tempat yang ditumbuhi pohon kurma, berbondong lah mereka menuju Yatsrib di tengah jazirah. Tapi ketika mengetahui Nabi itu bukan dari kalangan sendiri, permusuhan yang diproklamasikan. Maka disebabkan pengkhianatan, Madinah pun mengusir Bani Qainuqa, Nadhir dan Quraiszhah. Dan sesudah itu berdengung senandung, "Khaibar Khaibar ya Yahuud, Jaisyu Muhammad Saya'uud ... Ingatlah Khaibar wahai Yahudi, pasukan Muhammad pasti kembali!" /saf

No comments:

Post a Comment

Comments System

blogger/disqus/facebook